Kelas Baru, Segala Baru...Bab. 1
Sekolahku tercinta(Oya?)... 2 minggu libur, serasa 2 bulan libur. Tampak lama, apalagi aku menghabiskan liburku hanya di rumah. Tidak ada kerjaan. Ada sih kerjaan, paling juga Chat ama temenku. Namanya Sayuki Kataoka. Kalo kalian baca nama ini pertama kali, mungkin kalian menganggap dia orang Jepang dan kalian berpikir aku akan berbicara Bhs. Inggris ato Bhs. Jepang padanya. Tidak tuh.. Yuki-chan hanya numpang lahir di Jepang dan menetap disana selama 4 tahun. Lalu pindah ke Indonesia, lebih tepatnya Jakarta dan akhirnya kita kenalan lewat Chat. Selama Chat dengan Yuki-chan, tentu saja aku menggunakan Bhs. Indonesia dan tentu saja(lagi..) Yuki-chan mengerti apa yang sedang aku bicarakan. Aku sudah menceritakan banyak rahasiaku yang tidak ada yang tahu pada Yuki-chan, terutama tentang Rei. Oya, Rei..! Saking senengnya cerita tentang Yuki-chan, aku lupa cerita tentang Rei :P Selama liburan sekolah ini, aku jadi sering nelpon dia, trus dia juga jadi sering ke rumahku, dan juga sebaliknya. Yaa.. Bisa dibilang mesra.. :”> Tapi dengan alasan “Mengisi Waktu Kosong” :|
Kelasku, 9H. Luas, lumayan. Cahaya, lumayan. Temen-temen, buruk.. :| Hampir 75%-nya itu anak-anak gank semua!!! Anak-anak gaul!!! Aku bukan orang yang seperti itu, dan mudah bergaul dengan anak-anak itu!!! Gyaaa!!! Aku menggaruk-garuk kepalaku.. Pusing.. Tahun ini PASTI tidak menyenangkan.. ~X(
“Assalamualaikum, Rina..”
Glek! Suara ini... Suara yang sangat amat kunantikan. Hatiku makin berdegup kencang. Kyuuu.. Aku kangen ingin melihat wajahnya yang keren itu >.
“Waalaikumsalam, Rei..” Jawabku sambil terpesona melihat Rei dengan tas selempangnya yang berwarna hitam yang sudah menjadi ciri khasnya. Tangan kanannya dimasukkan ke dalam saku. Lalu, dia menatapku kebingungan..
“Hm, tadi kenapa garuk-garuk kepala?” Tanya Rei padaku sambil tersenyum dengan ‘senyuman 1000volt’-nya. Subhanallah... Ternyata ada juga orang kayak Rei. Udah pinter, baik, ramah, sopan, soleh, keren pula... Perfect!!! Yaa walaupun ada kurangnya juga sih...
“Ah.. Gapapa ko..”
“Hm.. Ya sudah.. Eh aku duduk di belakangmu lagi ya..” Mendengar kalimatnya itu, aku terbunga-bunga. 2 tahun sekelas dengan Rei dan 2 tahun duduk deketan sama Rei. Kyaaa.. >0
“Assalamualaikum, Rina.. Hai, Rei..”
“Waalaikumsalam...”
“Ah Rifa... Waalaikumsalam..” Jawab Rei dengan senyumannya yang sama dengan senyuman yang dia berikan padaku. Hiks.. :’(
“Rifa, sebangku yuk..” Ajakku tentunya. Tapi mungkin agak terpaksa, gara-gara aku tidak mau klo Rifa duduk deketan dengan Rei. Trus kenapa aku ajak sebangku? Kan kita berdua kan sahabatan baik. Tapi membiarkan Rifa jadi deket dengan Rei? Tidaaakk..!!!
“Eh afwan, aku udah janjian mo sebangku ama Milla..”
“Yaaah... Ya udah deh..” Aku kecewa.. Ato seneng?
“Aku ke sana dulu ya..” Pamit Rifa dan segera menuju bangkunya yang berada di ujung kelas itu. Lalu aku melanjutkan pembicaraanku dengan Rei. Belum 1 menit, badai datang lagi... :|
Bel masuk sekolah bunyi... Tapi Rian blom masuk...
“Rei, mana Rian?” Tanyaku pada Rei.
“Tau, telat mungkin...” Jawab Rei dengan wajah bete.
“Hm.. Kasian Rian..”
“ASSALAMUALAIKUM...!!!” Teriak seorang cwok bersuara berat.
Aku dan Rei terkejut... :|
“Waalaikumsalam, Rian.. Ko telat?” Tanyaku pada Rian khawatir.
“Macet, maklum hari pertama sekolah nih...”
“Yaa gak usah ngagetin dong...” Rei sebal.
“Iya, maaf.. Rei, aku sebangku sama kamu ya...” Tanpa basa-basi lagi, Rian langsung duduk di sebelah kirinya Rei. Padahal Rei blom mengizinkan ato mempersilakan. Rei tampak sebal. Ya iyalah.. Rian-nya aja kyak gitu..
10 menit..
20 menit..
30 menit..
40 menit..
50 menit..
1 JAM!!!
Kita udah nungguin guru dateng, tapi ampe sekarang blom juga dateng! Gila! Kelas udah berantakan nih.. Ada yang keluar, jalan-jalan.. Ada yang nge-gosip sambil ngehalangin jalan.. Teriak-teriak.. GYAAA!!! >0
“SALAM KENAL..!!!” Teriak seorang lelaki yang tidak dari kejauhan, tapi dari samping Rei. Dia meneriaki aku, Rei, dan Rian.
“Tahu malu dikit, kek..” Rei berkomentar layaknya Penegak Disiplin.
“Serius amat c.. Kenalan dong.. Namaku Zulfikar Ikhsandrirahman, panggil aku Fikar yah.. ;)” Tanpa basa-basi, dan tanpa tahu malu, dia langsung menggenggam tangan Rei...
“Aku Muhammad Reiza Ramadiatama. Panggil aku Rei..” Dengan suara agak kesel, Rei memperkenalkan dirinya.
lalu Rian...
“Adriansyah Putra Ramdani..! Panggil Rian..!” Rian memperkenalkan diri dengan semangat dan suara lumayan keras.
lalu aku...
“A.. Aku Arina Nur Fitriandini.. Rina saja cukup...” Aku memperkenalkan diri agak gugup. Gimana gak gugup, tanganku digenggam oleh tangannya yang besar. Dan dibandingkan yang lainnya, hanya aku saja yang tangannya digenggam lama.. Rei semakin kesal melihat kelakuan Fikar, apalagi melihat tanganku digenggam Fikar dengan waktu yang cukup lama. Tanpa pikir panjang, Rei mulai mengambil tindakan.
“Hoi, gak muhrim...!” Dengan nada tinggi sekaligus kesal Rei berdiri, lalu melepaskan tangan Fikar dari tanganku. Apa dia membelaku? Dalam hati, aku sangat amat terbunga-bunga melihat Rei melakukan itu untukku.(Wajarlah dibela.. Emang si Fikar melakukan kesalahan ko...)
“Napa sih? Serius amat...” Respon Fikar dengan kelakuan Rei padanya.
“Kelakuan kamu tuh gak sopan banget tau!!” Rei membentak. Aku dan Rian hanya bisa diam melihat mereka berdebat.
“Okeh, okeh... Aku pergi... Dadah Rina.. ;)” Pamit Fikar hanya padaku? Ko cuman ke aku?
“Eng.. Rei, makasih banyak ya... Tadi aku bener-bener gak tau harus ngapain..”
“Iya, sama-sama.. Ini sudah tugasku ko.. ;)” Jawab Rei yang tampaknya masih kesal dengan Fikar. “Nyebelin banget tu anak! Gak tau sopan santun!”
“Iya iya.. Bener banget!” Rian mengangguk anggukan kepala-nya.
“Kamu juga kenapa tadi gak ngapa-ngapain pas ngeliat temen kamu lagi dalam keadaan bahaya! Belainlah kek! Dasar gak peduli ama temen sendiri!” Bentak Rei pada Rian. Tak kusangka dia bakal marah seperti ini.
“Ta.. Tapi...”
“Rei, sudahlah! Aku kan gapapa...” Teriakku pada Rei.
“Hhhh...” Rei menghela nafas panjang, lalu kembali duduk. “Maafkan aku Rian..”
“Tidak apa.. Ini salah aku juga..” Rian menepuk punggung Rei. Melihat itu, aku hanya bisa tersenyum :)
Beberapa menit kemudian, guru datang. Selama pelajaran dimulai, aku hanya bisa diam. Ingin ngobrol dengan Rei, tetapi... Ya sudahlah...
Beberapa jam aku lewati dengan wajah murung. Aku memandang langit-langit di luar sambil bersandaran di depan pintu kelas. Tidak jelas apa yang sedang kupikirkan ini. Pikiranku kosong.
“Hai.. Kenapa madesu?” Sapa seorang perempuan yang tampaknya supel. “Jangan madesu dong...” Aku tidak memberikan respon. Tampaknya perempuan itu mulai sebal. Dan akhirnya, tubuhku diguncang-guncangkan olehnya.
“Duh, kenapa c? Orang lagi bete!” Kesalku.
“Jangan madesu ato bete dong... Gue paling gak suka kalo ada orang yang madesu, bete, ato lesu ato sebagainya..” Ujar perempuan gaul itu.
“Yaa, suka-suka aku dong! Itu kan bukan hak kamu!” Teriakku yang mulai terbawa emosi.
“Tapi gue gak bisa nge-diemin temen gue yang lagi bete! Gue harus ngehibur dia!” Teriak dia dengan nada tinggi. Lalu kami berpandangan tanpa berbicara sedikit pun. Kemudian, perempuan itu mulai membuka mulutnya...”Oke, maafin gue... Tapi...” Sambil tersenyum lebar, lalu menggenggam tanganku dengan keras, dan memandangku dalam-dalam, dia melanjutkan omongannya yang tadi.. “Klo lo butuh bantuan gue, gue bakal dateng kapan ajah.. Oya, nih gue kasih tips. Teriak deh biar gak madesu lagi. Okeh.. ;)” Kemudian perempuan itu segera pergi meninggalkanku, tanpa menyebutkan namanya. Siapa dia? Aku belum pernah liat dia sebelumnya. Tapi, setelah dipikir-pikir.. Tips dia boleh dicoba tuh. Tanpa tahu malu, di luar kelas, aku berteriak..
“GYAAA!!! SEBEL SEBEL SEBEL!!! WAAAA!!!......” Aku berteriak kira-kira 15 detik. Lama.. :| Semua teman-temanku hanya dapat melihatku sambil kebingungan dan dalam hati bertanya-tanya ‘Napa ni anak?’. Tapi hasilnya memuaskan. Aku sudah melupakan yang tadi dan berniat untuk mencari perempuan tadi. Saking puasnya dengan itu, aku lupa klo beberapa teman-temanku kebingungan melihatku teriak-teriak. Aku hanya bisa nyengir, lalu kabur mencari anak perempuan gaul tadi. Aku ingin mengucapkan banyak terima kasih padanya. Akhirnya kutemukan dia di depan kantin sekolah. Aku berlari menghampirinya, bahkan hampir menabraknya :P Ternyata dia masih mengenaliku(Ya iyalah, baru beberapa menit yang lalu gitu..)
“Eh cwek madesu.. Ada apa?” Sapanya padaku yang masih ngos-ngosan gara-gara tadi lari-lari.
“Eng.. Aku ingin berterima kasih banyak padamu. Tips kamu tadi bner-bner manjur! Thanks banget ya.. :)”
“Sama-sama.. ;) Eh, gue lupa kita blom kenalan. Nama elo?”
“Rina.. Arina Nur Fitriandini..”
“Gue Fira.. Andreina Safira. Pindahan dari Jakarta.”
“Oh, pindahan dari Jakarta. Pantes aku gak pernah liat kamu sebelumnya..”
“Hehehe...” Lalu kami melanjutkan obrolan kita sambil ke kantin untuk membeli beberapa jajanan dan akhirnya aku menyadari. Aku tidak bawa uang. Uangku ada di kelas :P Alhamdulillah, Fira mo meminjamkan uangnya padaku. Lalu aku membeli jus stroberi dengan sebungkus nasi kuning. Aku mengajaknya untuk sebangku denganku dan tentu saja dia terima karena kebetulan dia juga belum punya teman sebangku.
Pulang...
Seperti biasanya aku pulang bareng Rei. Tampaknya Rei masih murung. Rei tidak boleh murung terus. Klo gitu, aku harus menghiburnya >.<>
“Rei, tadi aku kenalan dengan perempuan gaul loh. Namanya Fira. Dia baik banget.. Dia pindahan dari Jakarta..”
“Oya? Hm..” Respon Rei yang sangat amat amat singkat :| Dan tampak tidak ada perubahan. Tidak boleh menyerah...
“Rei, tadi udah dapet temen baru blom?”
“Blom..” Jawab Rei. Singkat banget(lagi) :| Tidak ada perubahan. Ayo berjuaangg.. ;)
“Eh guru yang tadi itu wajahnya seram banget ya? Yang ngajar Mat itu loh..”
“Iya, serem..” Jawab Rei saangaaat dingin. Duh, membeku! :P Perubahan? Blom! Ayo berjuang lagi!
Ah! Aku lupa!
GAK ADA TOPIK!!!
Apa topik selanjutnya???
Dalam hati aku kebingungan sekaligus panik..
Lalu terlintas di pikiranku sebuah pertanyaan...
“Rei...”
“Ya?”
“Tadi, saat Fikar memegang tanganku, kenapa kamu membelaku? Kenapa tadi kamu menolongku?”
Rei terdiam.. Tidak menjawab apa-apa.. 2 menit kemudian, akhirnya Rei menjawabnya..
“Karena kamu sahabatku. Aku membutuhkan kamu. Aku tidak mau sahabatku terluka atau kenapa-kenapa. Aku harus melindungimu...” Itulah jawaban dari Rei. Ya.. Itu.. Benarkah? A.. Aku hampir tidak percaya Rei akan mengatakan ini. Rei sangat membutuhkanku dan... Dia ingin melindungiku... Kalimat yang tadi dilontarkan Rei akan aku ingat selalu. Bahkan aku ingin merekamnya di Recorder HP, lalu kuulang-ulangi lagi perkataannya. Saat ini, aku benar-benar sangat senang, malu, dan terbunga-bunga.
“Ah.. Terima kasih...” Aku berterima kasih sambil tersenyum malu-malu. Rei pun membalas senyumanku dan membalas ucapanku tadi. Akhirnya Rei tersenyum juga. Aku senang :)
“Rina, aku mohon sama kamu, hati-hati ama Fikar ya.. Lebih baik kamu jauhi Fikar..”
“Eng.. Baiklah.. Terima kasih karena sudah memperhatikanku...” Akhirnya, Rei tidak murung lagi. Kemudian dia menceritakan banyak hal tentang kejadian hari ini di sekolah. Aku pun tidak mau kalah. Lalu, dia sempat mengucapkan ‘Maaf’ karena tadi dia sempat murung. Aku maklumi...
“Kyaaaa...!!! >0<” Itulah kata yang aku ketik dan aku kirim ke Yuki-chan setelah aku menceritakan semua kejadian yang terjadi hari ini, terutama tentang perkataan yang tadi Rei ucapkan padaku.
“Senang amat.. :)” Respon Yuki-chan padaku. “Tadi, aku hari pertama sekolah tidak sesenang kamu. Soalnya tadi tiba-tiba aku dimarahi guruku tanpa alasan.. Hiks :’(“
“Nanti juga kamu akan senang.. ;) Oya tadi aku kenalan dengan perempuan gaul namanya Fira. Dia baiiikk banget.. Trus dia tuh....” Pembicaraan lewat Chat terus berlanjut, sampai Yuki-chan mengajakku untuk mengingat kejadian yang lalu...
“Eh ceritain lagi dong, gimana ceritanya kamu bisa ada feeling ama Rei?”
“Eh, bukannya udah pernah?”
“Lagi.. Ya? Onegai..”
“Iya.. Iya.. Buat kamu.. ;)”
“Honto ni? Arigatou...”
“Doiteshimashitte.. Ceritanya gini...”

